Monthly Archive May 2019

Kampoeng Bambu Maros, Lestarikan Kearifan Budaya Lokal dengan Keunikan Bambu

Bambu merupakan tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia. Selain memiliki fungsi ekologi, tanaman bambu sering di gunakan oleh beberapa suku bangsa di nusantara sebagai bahan bangunan, transportasi, kuliner, pengobatan, peralatan rumah tangga bahkan digunakan sebagai alat musik.

Namun, mengapa bambu masih dianggap sebagai tanaman tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi?

Hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Makassar dan ditempuh kurang lebih 60 menit, kita sudah bisa sampai Kampoeng Bambu Toddopulia, sebuah destinasi wisata yang terletak di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Objek wisata yang satu ini cukup unik, karena selain menyuguhkan hamparan pohon bambu menyapa setiap pengunjung yang akan berkunjung ke lokasi ini.

Kampoeng Bambu Toddopulia Maros merupakan satu-satunya objek wisata yang memiliki konsep unik di Sulsel. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan hamparan pohon bambu sembari merasakan udara sejuk dan suara gesekan batang-batang bambu yang mengeluarkan suara yang khas.

Ide awal berdirinya hutan bambu toddopulia ini diinisiasi oleh Wahyudin Yunus. Yang bertujuan menghidupkan desa dari potensi sosial dan budaya serta mengangkat potensi desa sebagai sumber pendapat secara ekonomi dengan mempertahankan budaya lokal.

Kampoeng Bambu Toddopulia secara resmi dibuka untuk umum pada 5 Juni 2018. Meski sudah setahun di buka untuk, sayangnya belum mendapat perhatian yang signifikan, masyarakat belum mampu menangkap peluang secara ekonomi, masih butuh proses panjang sehingga masyarakat setempat bisa merasakan potensi wahana wisata kampung bambu toddopulia menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.

Serunya aktivitas di kampung bambu

Pekerja sosial dan budaya Maros membuka Kampoeng Bambu di Dusun Bungung-Bungung, Desa Toddopuluia, Kecamatan Tanralili, Minggu

Berbagai kegiatan yang digelar dalam kesempatan tersebut seperti, diskusi kampung literasi, generasi milenial di era digital serta baca puisi.

Selain itu juga digelar pentas tari, kesenian rakyat gambus dan sinrili, kultum, musikalisasi puisi azzure azalea oleh Misbahuddin Nur dan sesi foto finalis dara daeng oleh Marfografi.

Direktur Project Kampoeng Bambu Toddopulia Maros Muh Sultan mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk memperlihatkan dan memanfaatkan potensi rumpun bambu di Desa Toddopulia.

“Kegiatan ini sengaja digelar iuntuk memperlihatkan potensi bambu yang begitu besar. Adapun bambu yang kami jual hanya untuk kebutuhan makan saja,” kata Sultan, Senin (9/4/2018).

Dalam kegiatan tersebut juga disediakan jajanan tradisional, taman baca, arena bermain anak-anak, klinik, tempat ngopi dan permainan tradisional dari bambu.