Kampoeng Bambu Maros, Lestarikan Kearifan Budaya Lokal dengan Keunikan Bambu

Kampoeng Bambu Maros, Lestarikan Kearifan Budaya Lokal dengan Keunikan Bambu

Bambu merupakan tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia. Selain memiliki fungsi ekologi, tanaman bambu sering di gunakan oleh beberapa suku bangsa di nusantara sebagai bahan bangunan, transportasi, kuliner, pengobatan, peralatan rumah tangga bahkan digunakan sebagai alat musik.

Namun, mengapa bambu masih dianggap sebagai tanaman tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi?

Hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Makassar dan ditempuh kurang lebih 60 menit, kita sudah bisa sampai Kampoeng Bambu Toddopulia, sebuah destinasi wisata yang terletak di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Objek wisata yang satu ini cukup unik, karena selain menyuguhkan hamparan pohon bambu menyapa setiap pengunjung yang akan berkunjung ke lokasi ini.

Kampoeng Bambu Toddopulia Maros merupakan satu-satunya objek wisata yang memiliki konsep unik di Sulsel. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan hamparan pohon bambu sembari merasakan udara sejuk dan suara gesekan batang-batang bambu yang mengeluarkan suara yang khas.

Ide awal berdirinya hutan bambu toddopulia ini diinisiasi oleh Wahyudin Yunus. Yang bertujuan menghidupkan desa dari potensi sosial dan budaya serta mengangkat potensi desa sebagai sumber pendapat secara ekonomi dengan mempertahankan budaya lokal.

Kampoeng Bambu Toddopulia secara resmi dibuka untuk umum pada 5 Juni 2018. Meski sudah setahun di buka untuk, sayangnya belum mendapat perhatian yang signifikan, masyarakat belum mampu menangkap peluang secara ekonomi, masih butuh proses panjang sehingga masyarakat setempat bisa merasakan potensi wahana wisata kampung bambu toddopulia menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *