Monthly Archive July 2019

Unifa Latih Warga Desa Tadoddopulia Kembangkan Wisata

Universitas Fajar (Unifa) menggelar Kegiatan Pengembangan Desa Wisata, melalui Pendampingan Dalam Rangka Fasilitasi Pelatihan Masyarakat Desa Wisata di Kampung Bambu Toddopulia, Kabupaten Maros, Senin (15/7/2019).

Dalam pelatihan ini mengikutsertakan para warga desa, perwakilan dari Karang Taruna, dan tokoh masyarakat Desa Toddopulia. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Kabupaten Maros.

Kegiatan yang berlangsung di kantor balai desa Toddopulia dihadiri langsung perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian PUPR, Camat Tanralili, Kepala Desa Toddopulia, serta dosen-dosen Universitas Fajar (Unifa).

“Kampung bambu Desa Toddopulia dipilih karena mempunyai daya tarik, dan memiliki potensi yang sangat bagus untuk dikembangkan menjadi objek wisata yang potensial. Mengingat kampung bambu Toddopulia juga salah satu penyuplai bambu terbesar di Sulawesi Selatan”, ucap Nasrullah, Dosen Unifa yang juga merupakan Kordinator Tim Pendampingan Desa Wisata.

Dosen-dosen Unifa dalam kegiatan ini menyampaikan beberapa materi mengenai sadar wisata dan sapta wisata, digitalisasi kampung bambu, serta pembibitan dan pengawetan bambu.

Kepala Desa Toddopulia, A Abbas menyambut baik kedatangan tim dari Unifa serta Kemenpar dan Kementerian PUPR, dengan program yang dibawa ke desanya tersebut sebagai bentuk pendampingan untuk memajukan wisata di Desa Toddopulia.

“Kami sangat berterima kasih kepada Unifa telah mengadakan kegiatan ini terkait pengembangan desa wisata bambu. Semoga dengan adanya kegiatan pelatihan dan pendampingan ini bisa memberikan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat dalam mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki desa Toddopulia Kampung Bambu”, ujarnya. (*).

sumber https://fajar.co.id/2019/07/15/unifa-latih-warga-desa-tadoddopulia-kembangkan-wisata/

Kementrian Parawisata Kunjungi Kampung Bambu di Desa Toddopulia

Maros, Kegiatan pemdampingan Desa Wisata dalam Rangka fasilitas pelatihan masyarakat Desa wisata Kampung Toddopulia kabupaten maros 15 juli 2019.

Aspek pengembangan SDM pariwisata dan hubungan antar lembaga deputi bidang pengembangan Indutsri dan kelembagaan kementrian pariwisata Republik Indonesia bertempat di gedung kantor Desa Toddopulia kabupaten maros.

Dalam wawancara singkat dengan bapak Drs Duta Indra Siregar, MM dari kementerian parawisata jakarta pusat jalan medan barat no 17,mengatakan kami baru pertama kali datang di Desa toddopulia kecamatan tanralili kami sangat tertarik di kampung bambu ini, sangat berpotensi apabila ke depannya di kembangkan disini udaranya sejuk masyarakatnya Rama rama nantinya dalam pengembangannya akan ada pemdampingan dari universitas fajar memang perlu di tata sedemikian rupa mulai dari pasilitas umum seperti wc tempat makan kerajinan tangan terbuat dari bambu sehingga wisata kampung Bambu ini mempunyai ciri has tersendiri dan punya daya tarik sehingga pengunjunnya tamba ramai.

Kampung bambu di Desa toddopulia ini lokasinya luas bedah kalau seperti Negara jepang kampung bambunya kecil sama seperti Di bali kampun bambunya buatan kalau di Desa toddopulia
Betul betul kampung Bambunya Asli
dan Alami ungkapnya.

Di tempat yang sama,kepala Desa Toddopulia kecamatan Tanralili A.Abbas karaeng suro menambahkan kami mengucapkan banyak terima kasih pada Universitas fajar makassar yang telah memfasilitasi kegiatan pelatihan ini kami selaku pemerintah Desa Toddopulia mengucapkan selamat datang rombongan dari kementrian pusat di Desa Toddopulia adanya kegiatan pelatihan ini kami mengharapkan kampung Bambu ini semakin di kenal di masyarakat,kami ingim bambu itu ada nilainya tersendiri karena bambu itu juga bagian dari kontruksi bangunan harga bambu dari dulu harganya tidak naik mudah mudahan dengan adanya pelatihan ini maysarakat tau bagaimana berusaha membuat kerajinan terbuat dari bambu yang ada,harga jualnya di masyarakat harapan kami mudah mudahan kampung bambu ini bisa menjadi obyek wisata yang di kenal di kanca nasional dan mayasrakat internasional.

Laporan:Zaenal

Sumber: https://faktualsulsel.com/2019/07/15/kementrian-parawisata-kunjungi-kampung-bambu-di-desa-toddopulia/

Permainan masa kecil di kampung bambu

Ingin berselancar di masa kecil dengan permainan dari bambu? Taman Wisata Kampung Bambu yang terletak di Desa Toddopulia, Dusun Bungu-bungu, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi selatan, bisa jadi pilihan.  Pengunjung akan disuguhkan berbagai permainan dari bambu seperti ayunan, jungkat-jungkit, hingga egrang atau longga dalam bahasa setempat. Tak ketinggalan aneka permainan masa lalu seperti tembak-tembak bambu dengan peluru kertas basah yang harganya hanya sebesar Rp 2000 per batang.

Pengunjung juga bisa menikmati hamparan ribuan bambu. Uniknya, di tempat ini, pengunjung hanya bisa mengambil gambar dari telepon seluler mereka. Namun ponsel tersebut tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi, apalagi mengakses internet.  Hal ini akan menambah kesempurnaan pengunjung yang ingin bernostalgia di masa kecil.  “Tempat ini menarik karena banyak permainan tempo dulu. Kita dapat bernostalgia dengan masa anak-anak dulu yang jika dibandingkan dengan anak-anak sekarang yang tidak lagi melirik permainan masa lalu melainkan hanya mengenal gadget,” ujar seorang pengunjung, Rizki Ridhayati.  Pengunjung dewasa Taman Wisata Kampung Bambu menikmati permainan tembak bambu yang dijual warga setempat.(Chermanto Tjaombah ) Tempat ini awalnya hanya tempat bernaung bagi petani jika terik menyengat. Kemudian warga dibantu sejumlah warga menyulapnya menjadi lokasi wisata. Mereka memanfaatkan potensi alam yang ada berupa hamparan rumput di daerah tersebut.  Namun kini, tempat itu menjadi lokasi wisata yang dapat menambah perekonomian masyarakat setempat.  “Sebagai pemuda lokal saya mencoba mengajak sejumlah pegiat literasi dan kebudayaan untuk memaksimalkan potensi bambu di daerah ini dengan konsep wisata keluarga untuk menopang perekonomian masyarakat dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan,” papar salah satu pemuda kampung tersebut, Sultan. Direktur kampung Bambu Muh Sultan mengatakan, konsep awal Kampung Bambu adalah pemanfaatan bambu yang bagi warga setempat bernilai budaya. Potensi ini kemudian dimaksimalkan menjadi potensi wisata keluarga, sekaligus menopang perekonomian masyarakat.