Permainan masa kecil di kampung bambu

Permainan masa kecil di kampung bambu

Ingin berselancar di masa kecil dengan permainan dari bambu? Taman Wisata Kampung Bambu yang terletak di Desa Toddopulia, Dusun Bungu-bungu, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi selatan, bisa jadi pilihan.  Pengunjung akan disuguhkan berbagai permainan dari bambu seperti ayunan, jungkat-jungkit, hingga egrang atau longga dalam bahasa setempat. Tak ketinggalan aneka permainan masa lalu seperti tembak-tembak bambu dengan peluru kertas basah yang harganya hanya sebesar Rp 2000 per batang.

Pengunjung juga bisa menikmati hamparan ribuan bambu. Uniknya, di tempat ini, pengunjung hanya bisa mengambil gambar dari telepon seluler mereka. Namun ponsel tersebut tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi, apalagi mengakses internet.  Hal ini akan menambah kesempurnaan pengunjung yang ingin bernostalgia di masa kecil.  “Tempat ini menarik karena banyak permainan tempo dulu. Kita dapat bernostalgia dengan masa anak-anak dulu yang jika dibandingkan dengan anak-anak sekarang yang tidak lagi melirik permainan masa lalu melainkan hanya mengenal gadget,” ujar seorang pengunjung, Rizki Ridhayati.  Pengunjung dewasa Taman Wisata Kampung Bambu menikmati permainan tembak bambu yang dijual warga setempat.(Chermanto Tjaombah ) Tempat ini awalnya hanya tempat bernaung bagi petani jika terik menyengat. Kemudian warga dibantu sejumlah warga menyulapnya menjadi lokasi wisata. Mereka memanfaatkan potensi alam yang ada berupa hamparan rumput di daerah tersebut.  Namun kini, tempat itu menjadi lokasi wisata yang dapat menambah perekonomian masyarakat setempat.  “Sebagai pemuda lokal saya mencoba mengajak sejumlah pegiat literasi dan kebudayaan untuk memaksimalkan potensi bambu di daerah ini dengan konsep wisata keluarga untuk menopang perekonomian masyarakat dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan,” papar salah satu pemuda kampung tersebut, Sultan. Direktur kampung Bambu Muh Sultan mengatakan, konsep awal Kampung Bambu adalah pemanfaatan bambu yang bagi warga setempat bernilai budaya. Potensi ini kemudian dimaksimalkan menjadi potensi wisata keluarga, sekaligus menopang perekonomian masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *